TAKALAR|SNIPERTUNTAS. COM –Sekolah seharusnya menjadi tempat yang menyenangkan, aman, dan penuh kenyamanan bagi setiap anak untuk tumbuh dan menggali potensi diri. Hal inilah yang ditekankan secara tegas oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadisdikbud) Kabupaten Takalar, Dody Ryan Saputra, S.IP., M.I.Kom., dalam imbauan resmi yang disampaikan ke seluruh satuan pendidikan, mulai dari TK, SD, hingga SMP. Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen pemerintah daerah untuk menjadikan lembaga pendidikan sebagai garda terdepan dalam membangun budaya yang ramah anak, bebas dari rasa takut, ancaman, maupun segala bentuk intimidasi.
Melalui media edukasi bertajuk “Himbauan Budaya Sekolah Aman & Nyaman untuk Satuan Pendidikan”, Disdikbud Takalar merumuskan enam poin utama yang akan menjadi fondasi kebijakan pendidikan ke depan. Enam pilar tersebut meliputi penciptaan lingkungan belajar yang kondusif, penguatan budaya saling menghormati, keberanian melaporkan tindakan kekerasan, penguatan komunikasi aktif antara sekolah dan orang tua, dukungan penuh terhadap program anti-kekerasan, serta komitmen bersama mewujudkan Sekolah Ramah Anak (SRA).
Dody Ryan Saputra menegaskan bahwa transformasi sekolah menjadi ruang yang menyenangkan adalah keharusan mutlak. Menurutnya, suasana sekolah sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan intelektual maupun emosional siswa.
“Sekolah tidak boleh menjadi tempat yang menakutkan. Sekolah harus menjadi ruang terbuka di mana peserta didik bisa bereksplorasi dan mengembangkan diri tanpa rasa cemas akan ancaman fisik maupun psikis. Lingkungan yang aman dan nyaman adalah tanggung jawab kita bersama,” ujar Dody dengan tegas.
Lebih jauh lagi, ia menambahkan bahwa peran sekolah tidak terbatas hanya pada transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan juga bertujuan membentuk karakter, etika, serta spiritualitas yang berlandaskan ketuhanan Yang Maha Esa demi masa depan anak-anak.
Pentingnya kolaborasi juga menjadi sorotan utama dalam imbauan ini. Disdikbud Takalar mengajak seluruh elemen, mulai dari tenaga pendidik, orang tua, hingga masyarakat luas, untuk bersinergi menjauhkan dunia pendidikan dari praktik perundungan atau bullying. Pengawasan terhadap anak tidak bisa hanya dibebankan kepada guru di sekolah, namun butuh keterlibatan aktif orang tua dalam memantau perilaku anak sehari-hari.
Pihak sekolah pun didorong untuk membangun saluran komunikasi yang lebih harmonis dan cair dengan para wali murid. Dengan komunikasi yang optimal, potensi gesekan atau masalah antar-siswa dapat dideteksi dan diselesaikan sejak dini. Harapannya, sekolah dapat benar-benar berfungsi sebagai “rumah kedua” yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara maksimal, sejalan dengan visi pendidikan nasional yang inklusif dan humanis.
Sebagai penutup, imbauan ini menjadi ajakan bagi seluruh warga Kabupaten Takalar untuk bahu-membahu mewujudkan budaya sekolah yang positif. Melalui lingkungan pendidikan yang sehat dan kondusif, Kabupaten Takalar optimis dapat melahirkan generasi penerus yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter kuat, beretika luhur, dan memiliki daya saing tinggi. Semangat ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kualitas pendidikan yang lebih bermartabat di bumi Tanah Lada.






























