TAKALAR| SNIPERTUNTAS.COM- Suasana duka mendalam menyelimuti warga Dusun Bontosunggu Desa Pa’rappunganta, Kecamatan Polobangkeng Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan. Dua anak laki-laki berusia balita ditemukan meninggal dunia setelah diduga tenggelam di lubang galian proyek pembangunan “Sekolah Rakyat” yang berlokasi tak jauh dari pemukiman mereka.
Kedua korban yang identik sebagai saudara atau kerabat dekat ini diketahui bernama Arzak (4) dan Asril (3). Mereka ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada Rabu malam
(27/5/2026), setelah sebelumnya hilang dari pantauan keluarga saat bermain di sekitar area proyek.
Berdasarkan penuturan warga setempat, kedua bocah tersebut terakhir kali terlihat bermain di area konstruksi Sekolah Rakyat yang masih dalam tahap pengerjaan. Area tersebut memiliki beberapa galian tanah, termasuk lubang untuk septic tank, yang tergenang air hujan dan tidak dilengkapi dengan pengamanan atau pembatas yang memadai.
Ketika menyadari kedua anak tersebut hilang, keluarga dan warga segera melakukan pencarian. Proses evakuasi yang melibatkan tim gabungan dan warga berlangsung intensif hingga akhirnya jasad kedua korban berhasil dievakuasi dari dalam lubang galian septic tank pada pukul 21.10 WITA. Kondisi jenazah ditemukan mengapung di dalam genangan air lumpur.
Video berdurasi 1 menit 36 detik yang beredar luas di media sosial memperlihatkan momen pilu keluarga memeluk tubuh korban sambil menangis histeris.
Menanggapi kejadian ini, Bupati Takalar dan telah mengunjungi rumah duka untuk memberikan hiburan kepada keluarga korban. Insiden ini memicu sorotan tajam terhadap standar keamanan di lokasi proyek-proyek publik, terutama yang berada di dekat pemukiman padat penduduk.
“Sekolah Rakyat seharusnya menjadi tempat harapan bagi pendidikan anak-anak, namun ironisnya, justru menjadi tempat duka bagi dua keluarga,” ujar seorang tokoh masyarakat setempat yang meminta namanya tidak disebutkan. Ia mendesak agar kontraktor dan pengawas proyek segera mengevaluasi keamanan lokasi, seperti memasang pagar pembatas sementara atau menutup lubang galian yang berpotensi membahayakan.
Dampak Psikologis bagi Warga
Kejadian ini meninggalkan trauma mendalam bagi warga, khususnya para orang tua yang memiliki anak kecil. Banyak warga yang kini lebih ketat mengawasi aktivitas bermain anak-anak mereka.
“Kami takut. Lubang-lubang galian itu banyak dan dalam. Jika tidak ada pagar, anak-anak yang belum paham bahaya bisa saja jatuh lagi,” kata salah satu ibu warga Polobangkeng Utara dengan suara bergetar.
Himbauan Keselamatan
Kepolisian Resor Takalar bersama dinas terkait diharapkan dapat mengusut tuntas kelalaian dalam pengawasan area konstruksi. Sementara itu, masyarakat dihimbau untuk:
1. Meningkatkan kewaspadaan terhadap anak-anak di sekitar area konstruksi.
2. Meminta pihak pengembang/proyek untuk segera mengamankan area berbahaya (lubang galian, material berat) dengan pagar atau penutup yang kuat.
3. Melaporkan segera jika menemukan potensi bahaya di area publik yang sedang dibangun.
Doa dan dukungan mengalir deras bagi keluarga Arzak dan Asril. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak agar keselamatan nyawa, terutama anak-anak, selalu menjadi prioritas utama dalam setiap pembangunan infrastruktur.
Editor:Uj






























